Pengalaman Clapham Saya: Sebuah Refleksi Mini

Pengalaman Clapham Saya: Sebuah Refleksi Mini

Perkenalan saya dengan Clapham terjadi secara digital dari Instagram Clapham @claphamco. Contoh ini menjadi alasan dari argumen Friedman: “The World Is Flat”.  Sederhananya, di era digital ini, saya bisa mendapatkan informasi tentang Medan meskipun sedang merantau untuk berkuliah.

Sebagai kaum millenial yang telah menetap di Medan selama 19 tahun, tentunya saya cukup antusias dengan kehadiran Clapham Collective yang ikut menggiatkan perkembangan ekosistem startup di kota Medan. Sebelum bertemu dengan Cindy, Community Manager Clapham, saya sendiri sebenarnya belum memahami inti dari coworking, yaitu komunitas. Saat itu, saya juga masih belum ‘ngeh’ apa peran coworking bagi startup.

Nah, setelah satu bulan bekerja sebagai intern di Clapham, saya setidaknya bisa mendapatkan jawaban dan kesimpulan pribadi bahwa Clapham tidak hanya sekedar coworking space, tapi:

“Clapham membangun ekosistem yang kondusif untuk membudayakan jiwa dan semangat entrepreneurship dengan media komunitas.”

Singkatnya, coworking dapat membangun komunitas yang akan mengantarkan kita berbagai pengalaman menarik. Misalnya, kita bisa menjadi lebih tahu tentang peluang kolaborasi antar sesama, dan juga lebih mengikuti perkembangan ekosistem startup di Medan, contohnya dari acara seperti Clapham Startupfest. Selain menggunakan cara-cara tersebut untuk membangun komunitasnya, Clapham juga aktif mengikutsertakan setiap membernya dalam berbagai kegiatan rekreasi seperti bukber, ataupun lari bersama.

Bicara mengenai cara Clapham untuk ‘get everyone engaged’, inilah 3 hal yang saya rasakan tentang cara Clapham membangun budaya komunitasnya:

  1. Di Clapham, saya ‘melakukan’, tidak hanya sebatas belajar

Clapham menggencarkan budaya belajar. Namun, saya berpendapat bahwa ungkapan ini terlalu menyederhanakan. Bagaimana tidak, saya memang belajar dari rekan lainnya, tapi juga diberi kesempatan berpartisipasi dalam meeting, dan berkontribusi untuk memfasilitasi acara.

Hal lain yang saya suka dari Clapham adalah: respek. Contohnya, semua rekan-rekan saya aktif mendengarkan presentasi dari proyek baru yang saya kerjakan, walaupun hanya terdapat sedikit relevansi dengan kebanyakan tugas-tugas mereka. Dapat dilihat adanya sebuah respek dan pembelajaran dua arah, tidak hanya dari atas ke bawah.

2. Di Clapham, integritas adalah fondasi dari kegiatan operasional sehari-hari

Integritas adalah kunci dari kepercayaan. Salah satu penerapan kecilnya di Clapham adalah, disediakannya sebuah kotak celengan yang bertuliskan ‘Please Pay Here’ untuk membayar snack dari Clapham yang mereka nikmati. Orang-orang bisa langsung membayar ke kotak tersebut atas inisiatif sendiri, tanpa diawasi orang lain. Memang, seperti yang dikatakan ahli perilaku ekonomi Iris Bohnet, kepercayaan membawakan efisiensi yang lebih besar.

3. Bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang kita berikan

Sebagai intern, saya belajar banyak ilmu dan mendapatkan bimbingan dari atasan saya, terutama tentang berpikir kritis dan menganalisa perusahaan. Mereka dengan ikhlas membagikan ilmu tersebut secara cuma-cuma. Mungkin ini adalah hal yang paling mengesankan selama saya berada di Clapham: berbagi.

Budaya berbagi juga melekat di antara komunitas kerja coworking. Sebut saja, waktu itu, saya mendapatkan saran yang konstruktif untuk konten presentasi saya dari teman coworking.

Pastinya jiwa berbagi yang saya rasakan di sini akan saya bawa dalam setiap aktivitas yang saya lakukan kedepannya. Ketiga cara tersebut semuanya memiliki satu kesamaan, yakni membangun komunitas dengan relationship-driven approach. Cara ini akan mendorong terbentuknya ikatan yang dekat antar sesama. Pada akhirnya, hal-hal kecil dan partisipasi inilah yang membuat komunitas Clapham semakin solid dan membawa dampak positif pada lingkungannya.

TEXT by Catherine Ng